Searchernews.com, LAMPUNG SELATAN – Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kecamatan Penengahan Ahmad Widodo tepis isu yang menyudutlan dirinya mengumpulkan pundi rupiah dari pembuatan atau pengajuan profosal bantuan kelompok tani.
Pasalnya, sumbangan dana yang terkumpul daru kelompok tani diperuntukan mengurus profosal dan transportasi untuk menyerahkan langsunng ke Dinas /Instansi yang dituju di Bandar Lampung, Jakarta dan Medan.
Bahkan biaya tersebut awalnya sudah ditentukan dan dimusyawarahkan kepada masing-masing kelompok tani yang akan mengajukan.
“Saya tidak pernah bisnis dan mengumpulkan pundi rupiah dari pembuatan dan pengajuan proposal, memang betul kelompok tani sepakat biaya dari Rp100ribu – Rp200 ribu, tiap Proposal satu Poktan. Uang segitu untuk disepakati untuk foto kopy, jilid proposal, antar proposal ke Bandar Lampung, Kejakarta dan Kekantor PSKL di Medan. Kalau ada 28 poktan x 200 ribu uangnya berapa sementara,” kata A. Widodo kepada media. Kamis (3/10/2019).
Menurut Humas KTNA Lamsel ini, dirinya dalam memgajukan profosal selalu dikawal, agar bantuan yang ajukan dapat terealisasi, bukan setelah diantar dan dibirkan begitu saja.
“Sudah beberapa kali saya ke Jakarta minta kejelasan nasip Proposal Bang PeSoNa di Kementrian LHK, dan info yang saya dapat Proposal poktan yang saya bawa lolos verifikasi adminitrasi dan bisa dikatakan layak menerima bantuan, dan saya juga bawa bukti daftar poktan-poktan tersebut, namun ada pemangkasan,dan mungkin juga karna tahun politik sehingga banyak kepentingan yang lebih diutamakan. ini bukti saya ngak diam dan terus berjuang untuk para petani,” jelasnya.
Dilain sisi, terkait dugaan dirinya selaku ketua KTNA menjual benih bantuan yang bagus dan yang benih jelek dijual kepetani.
“Bagaimana bisa saya sebagai ketua KTNA dapat benih bantuan, KTNA ngak bisa ajukan bantuan, saya terkadang dimintai tolong untuk mendampingi antar benih ke kelompok tani ditemani pak Babibsa karna sopir ngak tahu lokasi kelompok tani dan tugas saya antar benih babtuan sampai di kelompok yang dapat. Dan jika Poktan saya sendiri dapat anggota rame-rame nurunin dan ditaruh diteras rumah saya ngak pernah saya titipkan tempat orang lain, saya ada banyak dokumen foto saat anggota poktan saya nurunin benih,” terangnya.
Kemudian kata Ahmad Widodo, mengenai uang kas KTNA Penengahan dirinya tidak pernah memegang dana tersebuy, melaikan ada bendahara. Kalaupun dananya terpakai ada bukti-bukti pengeluarannya.
“Untuk uang kas yang pegang mas ngadiwanto selaku bendahara, beliau yang punya catatan berapa jumlahnya dan dipinjam siapa saja. Sebenarnya jumlah kas ini sudah disampaikan di rembuk KTNA tapi mungkin ada anggota yang tidak ikut rembuk sehingga muncul info yang kurang sedap, kalau ada yang bilang KTNA punya aset yang berbentuk jonder itu juga salah KTNA baru punya mesin perontok jagung dan barangnya juga masih ada, kalau alsin jonder aset poktan dan barangnya juga ada , kita usahakan bila ada yang nyuruh kerja uang hasilnya digunakan untuk perbaikan dan perawatan mesin sisanya buat kas kelompok tani,” pungkasnya. (R/Aan).
![]()
